kita masih berjalan diantara gelombang pasang
menikmati keindahan yang menjadi lusuh
mengamati lintasan kesibukan yang senyap
lalu kesunyian mengantar kita ke pemakaman
melewati jalan dengan dua latar;
kiri siang kanan malam
sambil bergandengan tangan
aroma kamboja lalu menyadarkan segala ingatan
kaupun tersenyum dengan hembusan kemenyan
“siapa yang akan duluan di kuburkan?”
puisi diatas diterbitkan dalam antologi puisi “ Puisi Absolut”, Gerilya Peradaban 2007 dengan judul Siapa Hendak
24 Juni 2007
22 Juni 2007
katakata katanya
kata-kata adalah bola kristal sang peramal
yang menggelinding jatuh ke pangkuanmu
menguarkan kabar dari bilik paling senyap
menyampaikan rasia yang tak curiga
yang menggelinding jatuh ke pangkuanmu
menguarkan kabar dari bilik paling senyap
menyampaikan rasia yang tak curiga
19 Juni 2007
kabut (ketika bayanganmu menghilang di ujung jalan kamarku)
Aku bersandar pada kabut yang diam-diam takut menyahut
Menyembunyikan genggaman pada bunga-bunga yang tumbuh di ranjang
Sambil khusyuk mendengar dengkur yang mengaduh.
Ada kau yang mengetuk-ketuk jendela kamar, mengajakku bermain hujan.
Tapi di luar tak hujan, hanya kabut yang kian tebal dan aku dalam sempurna menyimpan batuk pada kabut yang masih saja takut untuk menyahut.
Aku pun kesulitan menjaga yang tumbuh di ranjang tetap mekar
Sedang perdu dan ilalang sudah menjalar keluar kamar.
Batangnya ada juga yang melilitku.
Memeras keringat yang mungkin masih tersisa.
Membasahi ranjang dan pintu kamar.
O, sembunyikan aku yang makin larut dalam kabut!
puisi diatas telah diterbitkan dalam antologi puisi Temu-Mahasiswa-Penyair, TBJT Juni 2007
Menyembunyikan genggaman pada bunga-bunga yang tumbuh di ranjang
Sambil khusyuk mendengar dengkur yang mengaduh.
Ada kau yang mengetuk-ketuk jendela kamar, mengajakku bermain hujan.
Tapi di luar tak hujan, hanya kabut yang kian tebal dan aku dalam sempurna menyimpan batuk pada kabut yang masih saja takut untuk menyahut.
Aku pun kesulitan menjaga yang tumbuh di ranjang tetap mekar
Sedang perdu dan ilalang sudah menjalar keluar kamar.
Batangnya ada juga yang melilitku.
Memeras keringat yang mungkin masih tersisa.
Membasahi ranjang dan pintu kamar.
O, sembunyikan aku yang makin larut dalam kabut!
puisi diatas telah diterbitkan dalam antologi puisi Temu-Mahasiswa-Penyair, TBJT Juni 2007
05 Juni 2007
pantai asin r; tentang sesal yang tak menyesal
ombak-ombak melemparkan karang pada mimpi kita semalam
menyampaikan gemuruh serupa baja diantara igau yang tercela.
kita pun bertanya-tanya tentang siapa yang seharusnya segera berlayar
tapi angin terlalu asin untuk melabuhkan perahu kita.
akhirnya kita sepakat untuk membiarkan mimpi-mimpi pergi
dan diikuti.
tapi selalu ada yang membuat kita kembali.
seperti jemuran yang melambai-lambai yang tak kita biarkan
pasrah saat awan lelah menggenggam hujan yang resah.
selalu kita teringat permainan pantai dimasa kecil
tapi pantai terlalu asin untuk kita sekarang
dan kita memang tak ingin bermain!
puisi diatas telah diterbitkan dalam antologi puisi Temu-Mahasiswa-Penyair, TBJT Juni 2007
menyampaikan gemuruh serupa baja diantara igau yang tercela.
kita pun bertanya-tanya tentang siapa yang seharusnya segera berlayar
tapi angin terlalu asin untuk melabuhkan perahu kita.
akhirnya kita sepakat untuk membiarkan mimpi-mimpi pergi
dan diikuti.
tapi selalu ada yang membuat kita kembali.
seperti jemuran yang melambai-lambai yang tak kita biarkan
pasrah saat awan lelah menggenggam hujan yang resah.
selalu kita teringat permainan pantai dimasa kecil
tapi pantai terlalu asin untuk kita sekarang
dan kita memang tak ingin bermain!
puisi diatas telah diterbitkan dalam antologi puisi Temu-Mahasiswa-Penyair, TBJT Juni 2007
03 Juni 2007
rencana yang sia vie; tentang ke- taksengajaanku
kata-kataku tersesat ditikungan niat
dalam kereta ke Jatinegara
tak ada jejak yang tertinggal
di gerbong-gerbongnya yang kosong.
rel-rel pun cuma mengantar tanya
pada tanda yang sangat samar
tak ada yang tersisa.
batu-batu mengaduh dalam gumam yang jauh.
menyampaikan sedih yang benar lirih.
apa benar aku salah tujuan.
puisi diatas telah diterbitkan dalam antologi puisi Temu-Mahasiswa-Penyair, TBJT Juni 2007
dalam kereta ke Jatinegara
tak ada jejak yang tertinggal
di gerbong-gerbongnya yang kosong.
rel-rel pun cuma mengantar tanya
pada tanda yang sangat samar
tak ada yang tersisa.
batu-batu mengaduh dalam gumam yang jauh.
menyampaikan sedih yang benar lirih.
apa benar aku salah tujuan.
puisi diatas telah diterbitkan dalam antologi puisi Temu-Mahasiswa-Penyair, TBJT Juni 2007
Langganan:
Postingan (Atom)