sepi itu seperti layanglayang yang
putus dari benangnya, kan sayang?
bukitlangit
01 Februari 2007
31 Januari 2007
Kereta hujan ; vie
Dalam bising suara stasiun kereta api kepalaku
ramai bisik lembut sapa dan katamu
kita pun berlarian mengejar kenangan
yang tertinggal hingga kata-kata
berceceran dan kita tak sanggup lagi
menyusunnya kembali
lalu kita biarkan mata dan hati
saling bicara. O, matamu menyimpan
rel kereta yang dingin, hendak kemana
mereka mengirim kita?
segera saja laju kereta mengirimkku
pada sepi seperti langit yang menurunkan
dingin dalam hujan. Dan kenangan
malam itu meruap bersama
wangi hujan yang penuh gairah
Ah, hujan membikin kolam
yang besar ternyata. Tapi kita
tak bisa memandangnya bersama
dari atas plaza
*puisi ini diterbitkan dalam antologi puisi Pendhapa 3, TBJT Februari 2007
ramai bisik lembut sapa dan katamu
kita pun berlarian mengejar kenangan
yang tertinggal hingga kata-kata
berceceran dan kita tak sanggup lagi
menyusunnya kembali
lalu kita biarkan mata dan hati
saling bicara. O, matamu menyimpan
rel kereta yang dingin, hendak kemana
mereka mengirim kita?
segera saja laju kereta mengirimkku
pada sepi seperti langit yang menurunkan
dingin dalam hujan. Dan kenangan
malam itu meruap bersama
wangi hujan yang penuh gairah
Ah, hujan membikin kolam
yang besar ternyata. Tapi kita
tak bisa memandangnya bersama
dari atas plaza
*puisi ini diterbitkan dalam antologi puisi Pendhapa 3, TBJT Februari 2007
30 Januari 2007
sejatinya
Telah lama kita ketahui apa yang sebenarnya
mungkin terjadi dan tahu pula cara
untuk mengatasi. Tapi sebagaimana telah
kita mengerti, kita tak sungguh ingin lepas
dari susah, dan terus saja menapaki jalan
kebodohan.
Kita memang lebih puas pada yang ada
meski tak seberapa dari pada yang melimpah tapi
tak kasat mata, lebih baik menganggapnya tak ada
Tak perlu susah menuruti aturan yang suka
ngatur-ngatur, kita buat saja aturan; dilarang
Mengatur!
Laa ilaaha illaa anta subhaanaka
Innii kuntu minaddholimiina
mungkin terjadi dan tahu pula cara
untuk mengatasi. Tapi sebagaimana telah
kita mengerti, kita tak sungguh ingin lepas
dari susah, dan terus saja menapaki jalan
kebodohan.
Kita memang lebih puas pada yang ada
meski tak seberapa dari pada yang melimpah tapi
tak kasat mata, lebih baik menganggapnya tak ada
Tak perlu susah menuruti aturan yang suka
ngatur-ngatur, kita buat saja aturan; dilarang
Mengatur!
Laa ilaaha illaa anta subhaanaka
Innii kuntu minaddholimiina
24 Januari 2007
kunci sunyi
sendiri itu seperti kesibukan
mencari kunci yang hilang di
pagihari. klakson motor dan mobil
berteriak memanggil-manggil.
uh, anjing menggonggong keras sekali sementara
kendaraan berlatih paskibra dengan
polisi
konser musik dimana-mana. “Nonton, yuk!”
aduh, aku terjebak di lubang kunci. pengap
dan gelap seperti lorong-lorong perumahan pinggir
kali yang serupa dengan lubang hidung
yang penuh ingus.
aku mencari kunci dimana-mana.
pasar, sekolahan, terminal, konser
musik, rumah sakit, eh, aku dibawa
ambulans ke dalam lubang kunci mungkin
aku dikira kunci padahal aku bukan kunci
cuma sedang mencari kunci untuk lubang kunci
yang tak punya kunci.
aku mengintip lewat lubang kunci,
orang-orang berjingkrak di fort canning park
Sambil berteriak-teriak.
Hatiku berlubang seperti lubang kunci.
mencari kunci yang hilang di
pagihari. klakson motor dan mobil
berteriak memanggil-manggil.
uh, anjing menggonggong keras sekali sementara
kendaraan berlatih paskibra dengan
polisi
konser musik dimana-mana. “Nonton, yuk!”
aduh, aku terjebak di lubang kunci. pengap
dan gelap seperti lorong-lorong perumahan pinggir
kali yang serupa dengan lubang hidung
yang penuh ingus.
aku mencari kunci dimana-mana.
pasar, sekolahan, terminal, konser
musik, rumah sakit, eh, aku dibawa
ambulans ke dalam lubang kunci mungkin
aku dikira kunci padahal aku bukan kunci
cuma sedang mencari kunci untuk lubang kunci
yang tak punya kunci.
aku mengintip lewat lubang kunci,
orang-orang berjingkrak di fort canning park
Sambil berteriak-teriak.
Hatiku berlubang seperti lubang kunci.
17 Januari 2007
ideologi
aku batu saat kau pungut
sebuah sinetron yang dilupakan
pemulung di tempat sampah
lalu bercerita tentang pondasi rumah
yang digondol sebuah sinetron malam hari
“ kita harus jadi besi,” katamu.
tapi orang-orang lebih suka jadi bendera.
kemarin Rani makan ayam di KFC
minum cocacola sambil berkata “whaddup, bro!”
eh, tadi pagi semut-semut hajatan dibawah
kursi; merayakan sarapan pagi dengan spagheti
hidup seperti timba sumur kakek di desa
saat kembali lagi kita menyapa.
mulutmu memakan satu persatu bagian tubuhmu
ih, amit-amit.
tapi hidup suka ikut upacara di senin pagi
kemarin Andi nangis dipukul kakaknya, rumahnya
juga kebanjiran. Tapi di pasar banyak yang dicopet
dan dibunuh meski tidak banjir. Kok kaya naik
roller coaster, ya?
aduh, aku masuk angin!
sebuah sinetron yang dilupakan
pemulung di tempat sampah
lalu bercerita tentang pondasi rumah
yang digondol sebuah sinetron malam hari
“ kita harus jadi besi,” katamu.
tapi orang-orang lebih suka jadi bendera.
kemarin Rani makan ayam di KFC
minum cocacola sambil berkata “whaddup, bro!”
eh, tadi pagi semut-semut hajatan dibawah
kursi; merayakan sarapan pagi dengan spagheti
hidup seperti timba sumur kakek di desa
saat kembali lagi kita menyapa.
mulutmu memakan satu persatu bagian tubuhmu
ih, amit-amit.
tapi hidup suka ikut upacara di senin pagi
kemarin Andi nangis dipukul kakaknya, rumahnya
juga kebanjiran. Tapi di pasar banyak yang dicopet
dan dibunuh meski tidak banjir. Kok kaya naik
roller coaster, ya?
aduh, aku masuk angin!
Langganan:
Postingan (Atom)