Sepi itu merengek di pangkuanmu
menyeretmu pada tangis anak pertama
yang sungguh membuatmu bahagia.
butir-butir lelah dan gelisah saat itu
telah berubah bangga yang sempurna
ketika dia memberimu cucu pertama.
Kau insyaf lagi pada sepi ketika dia
memberimu tamparan yang mendamparkanmu
dalam ingatan pada anak kedua. “ ah, aku rindu
kepal kecilmu di dadaku”. Ada harap yang
kau simpan padanya, ketika jimat kecilmu itu
pulang dan bercakap.
Tapi cemas yang senyap selalu merayap saat
sepi membawamu pada ingatan akan anak ketiga.
Dzikir yang semilir kau lapalkan sebagai jembatan
sambil meredam kawatir apa yang
diingat gadis kecilmu di kota sana?
Kadang kau takut juga saat mereka berkumpul
bersama untuk sekedar menikmati
opor ayam dan ketupat. Sepi akan terasa
dua kali setelah lelah dan menatap piring,
panci kosong tanpa isi. Mengingatkanmu
pada lubang kosong di hatimu saat harus
kehilangan anak keempat yang jejak
kecilnya terus membekas di teras.
Lalu kau teguk saja secangkir teh hangat
bersama kekasih paling permata sambil
menunggu senja. Dan kau timang
sepi sebagai buah hati hingga kelak
ia pun pergi.
Buat orang yang membuatku mengada; dalam do’a kita bercengkrama.
13 Januari 2007
dinding jam dinding
Hidup adalah ketika anak-anak kita mulai
bermain sandiwara di kamar mandi bersama
sabun, shampo, odol dan sikat gigi. Ketika
kunci rapat dan berkunjung pada jam dinding
Lalu televisi menjelma sutradara yang tak
punya jam dinding di mukanya. Kita sempat juga
kaget melihat anak-anak kita belajar baris
berbaris pada pak sutradara tanpa membawa
jam dinding. jam tangan juga tidak, “ tanganku
dimakan hati nurani, mama!”.
Kita pun insyaf dan tenggelam dalam dzikir
apa boleh dikata. Atau kita musnahkan saja
dinding-dinding itu agar tak ada jam yang berdetak
yang berteriak seperti ketika pasar kebakaran sedang
petugas pemadam kebakaran tak juga membawa
mobil pemadam kebakaran, malah asyik merokok
sambil sesekali menyeruput kopi lalu berkata bensinnya
tak ada? Oops, bensin kan tak punya jam dinding.
Lebih enak menjadi badut-badut yang berkumpul dipesta
sambil menyanyi menari dan sesekali berpotret bersama
sambil tertawa keras sekali. Badut-badut juga tak punya
jam dinding di kepalanya, dinding-dindingnya penuh lukisan.
Apalagi jam tangan, mau ditaruh dimana?
Mari kita menjadi badut saja meski tak memakai
jam dinding dan berguru pada mereka mengubah derita jadi tawa.
Ah, entah kaget entah bangga kita merasa. Perasaan kita serupa
gado-gado yang dijual di pinggir jalan mungkin serupa juga dengan
jarum jam yang berputar-putar pada jam dinding yang kemarin
kita hancurkan ketika melihat muka badut-badut itu
ternyata anak-anak kita!
bermain sandiwara di kamar mandi bersama
sabun, shampo, odol dan sikat gigi. Ketika
kunci rapat dan berkunjung pada jam dinding
Lalu televisi menjelma sutradara yang tak
punya jam dinding di mukanya. Kita sempat juga
kaget melihat anak-anak kita belajar baris
berbaris pada pak sutradara tanpa membawa
jam dinding. jam tangan juga tidak, “ tanganku
dimakan hati nurani, mama!”.
Kita pun insyaf dan tenggelam dalam dzikir
apa boleh dikata. Atau kita musnahkan saja
dinding-dinding itu agar tak ada jam yang berdetak
yang berteriak seperti ketika pasar kebakaran sedang
petugas pemadam kebakaran tak juga membawa
mobil pemadam kebakaran, malah asyik merokok
sambil sesekali menyeruput kopi lalu berkata bensinnya
tak ada? Oops, bensin kan tak punya jam dinding.
Lebih enak menjadi badut-badut yang berkumpul dipesta
sambil menyanyi menari dan sesekali berpotret bersama
sambil tertawa keras sekali. Badut-badut juga tak punya
jam dinding di kepalanya, dinding-dindingnya penuh lukisan.
Apalagi jam tangan, mau ditaruh dimana?
Mari kita menjadi badut saja meski tak memakai
jam dinding dan berguru pada mereka mengubah derita jadi tawa.
Ah, entah kaget entah bangga kita merasa. Perasaan kita serupa
gado-gado yang dijual di pinggir jalan mungkin serupa juga dengan
jarum jam yang berputar-putar pada jam dinding yang kemarin
kita hancurkan ketika melihat muka badut-badut itu
ternyata anak-anak kita!
03 Januari 2007
ketika eiadukek
di sela gegas waktu yang batu
apa yang mampu kita pacu?
sedang tubuh saja sudah entah;
memadat dalam alat
menyatu pada benda yang bisu
terpisah di segala arah
lalu kita sibuk mencari bara pada desah
resah pasir yang basah
dan kita sama menyekap harap
dalam hati yang hampir mati
apa yang mampu kita pacu?
sedang tubuh saja sudah entah;
memadat dalam alat
menyatu pada benda yang bisu
terpisah di segala arah
lalu kita sibuk mencari bara pada desah
resah pasir yang basah
dan kita sama menyekap harap
dalam hati yang hampir mati
21 November 2006
interlude
Pasirpasir liar benar. Berlari-lari ditubuh kita.
Uh, lengketsekalitubuhkita.
Perahu pagang diatas debur ombak
Besok mulai kerja. Turis sudah jadi kenangan.
Bunyi kehilangan suara. “Jadi kepiting dong, sayang
Aku pengin dicapit”
Rembulan diujung sana seperti semangka yang membusuk.
Uh, lengketsekalitubuhkita.
Perahu pagang diatas debur ombak
Besok mulai kerja. Turis sudah jadi kenangan.
Bunyi kehilangan suara. “Jadi kepiting dong, sayang
Aku pengin dicapit”
Rembulan diujung sana seperti semangka yang membusuk.
jam 12 malam
Kau membiat pasar pada jam 12 malam.
Orang-orang mengadakan selametan.
Ada ibu dan bapak. Aih, kakek dan nenek turut serta.
Aku juga. Bibi sibuk di dapur. Menunggu mimpi
Biar tak gosong. Kadang datang juga.
Ah, makin ramai saja pasar yang kau buat.
Air di kamar mandi berlari-lari. Ini kan belum pagi!
Susunya berapa? Handuknya mana? Ada yang
mengintip dari dalam kulkas. Keluar dari
dispenser, sayang.
“kakek, tidurlah. Nenek juga”. Pasar hampir
tutup. Kau mengukir udara dengan senyuman.
Aih, kakek ingin ditinju dengan tinju kecilmu.
Nenek menyimpan berakmu, lho. Ibu dan bapak
Belajar matematika.
Aku melihat matahari di jam 12 malam.
Orang-orang mengadakan selametan.
Ada ibu dan bapak. Aih, kakek dan nenek turut serta.
Aku juga. Bibi sibuk di dapur. Menunggu mimpi
Biar tak gosong. Kadang datang juga.
Ah, makin ramai saja pasar yang kau buat.
Air di kamar mandi berlari-lari. Ini kan belum pagi!
Susunya berapa? Handuknya mana? Ada yang
mengintip dari dalam kulkas. Keluar dari
dispenser, sayang.
“kakek, tidurlah. Nenek juga”. Pasar hampir
tutup. Kau mengukir udara dengan senyuman.
Aih, kakek ingin ditinju dengan tinju kecilmu.
Nenek menyimpan berakmu, lho. Ibu dan bapak
Belajar matematika.
Aku melihat matahari di jam 12 malam.
Langganan:
Postingan (Atom)