Kita hanya mampu menakar gelisah;
Berapa terberi
Berapa terbagi
Sejenak sebelum berpisah
Kita memang kerap bersandar
Dengan tak sadar.
Dan mengerti sesuatu berarti
Setelah pergi, tak kembali.
Kita masih duduk saja tanpa kata
Memandang langit yang hitam
Menunggu bintang yang telat datang
Aku, ucapmu, mungkin seharusnya
Tak datang. Lalu kunangkunang
Membawa lukisan. Putri yang tertidur.
05 November 2006
19 Oktober 2006
Untuk Tubuh Yang Tak Utuh
sehelai rumbia tertinggal di desir angin
berhembus, lewat pintu yang terbuka
ada gurat tangan yang mengarat di gagangnya.
entah
lalu udara menyekap hawamu disini
meninggalkan jejak dingin batu karang
pada malam yang karam
tak ada yang hendak mentasbihkan gelap malam
pada secangkir kopi dan sebatang rokok
sebab tubuh tak lagi utuh
merentang panjang
tercecer terpisah
basah
dan kita tak perlu lagi menempuh jauh
sebab kita telah satu dalam seluruh
memadat dalam setiap alat
puisi diatas dimuat dalam antologi Mencari Rumah; Antologi Puisi Hysteria 2004-2007
berhembus, lewat pintu yang terbuka
ada gurat tangan yang mengarat di gagangnya.
entah
lalu udara menyekap hawamu disini
meninggalkan jejak dingin batu karang
pada malam yang karam
tak ada yang hendak mentasbihkan gelap malam
pada secangkir kopi dan sebatang rokok
sebab tubuh tak lagi utuh
merentang panjang
tercecer terpisah
basah
dan kita tak perlu lagi menempuh jauh
sebab kita telah satu dalam seluruh
memadat dalam setiap alat
puisi diatas dimuat dalam antologi Mencari Rumah; Antologi Puisi Hysteria 2004-2007
20 September 2006
tuktakatakata
Kau bikin senin pagi dalam mulutmu
Keretakeretakelasekonomi menjerit
Sarapan pagi tercecer dibawah meja. Uh, semalam
Kucing memburu tikus.
Kadang kata juga sok tahu. O, semut senang
Rasa asin. “ pinjem kamarmu dong” tukang jagal
Mencincang daging.
Aku upacara pagi. Uh, katakata membunuhku!
092006
Keretakeretakelasekonomi menjerit
Sarapan pagi tercecer dibawah meja. Uh, semalam
Kucing memburu tikus.
Kadang kata juga sok tahu. O, semut senang
Rasa asin. “ pinjem kamarmu dong” tukang jagal
Mencincang daging.
Aku upacara pagi. Uh, katakata membunuhku!
092006
bonsai
Kau menanam sebuah biji saat pertama kita bertemu disebuah taman di belakang sekolah. Ada kupukupu berwarna ungu, dan kau tersenyum malu.
aku hanya batu
keras, cadas.
“Jagalah biar tumbuh”, ucapmu.
tapi aku tak pernah
tak kusiram
tak kurawat
tak kulihat
“Oh, baik sekali kau merawatnya. Besar sekali pohon ini” kau berkata setelah kita tak lagi berjumpa.
Bagaimana mungkin, pikirku. Aku tak pernah menjaganya.
“Sudahlah, mungkin kau juga mengingatku. Tapi aku akan pergi”.
Dan kubonsai pohon itu
Hilang dahan julang langit
Rantingdahandaunbunga mengecil
Cuma akar menggelembung
Kau menanam sebuah biji saat pertama kita bertemu disebuah taman di belakang sekolah. Ada kupukupu berwarna ungu, dan kau tersenyum malu.
aku hanya batu
keras, cadas.
“Jagalah biar tumbuh”, ucapmu.
tapi aku tak pernah
tak kusiram
tak kurawat
tak kulihat
“Oh, baik sekali kau merawatnya. Besar sekali pohon ini” kau berkata setelah kita tak lagi berjumpa.
Bagaimana mungkin, pikirku. Aku tak pernah menjaganya.
“Sudahlah, mungkin kau juga mengingatku. Tapi aku akan pergi”.
Dan kubonsai pohon itu
Hilang dahan julang langit
Rantingdahandaunbunga mengecil
Cuma akar menggelembung
17 April 2006
matahari hijau tua
Hatimu hinggap di ujung Laventar
lalu jatuh di pelukanku
dan tersedu
Di mataku kau mewarnai matahari
dengan spidol hijau tua
dan kudengar jeritmu
dari televisi yang tak henti
menyemburkan darah,
bangkai bintang dan rembulan
di luar sebagian orang berpesta
merayakan kematian tuhan
dan segera iklan-iklan bertebaran;
lowongan pekerjaan; butuh tuhan
pendidikan dan pengalaman tak diutamakan
kenapa tak melamar? tanya tetanggamu
kau kan pengangguran
lalu jatuh di pelukanku
dan tersedu
Di mataku kau mewarnai matahari
dengan spidol hijau tua
dan kudengar jeritmu
dari televisi yang tak henti
menyemburkan darah,
bangkai bintang dan rembulan
di luar sebagian orang berpesta
merayakan kematian tuhan
dan segera iklan-iklan bertebaran;
lowongan pekerjaan; butuh tuhan
pendidikan dan pengalaman tak diutamakan
kenapa tak melamar? tanya tetanggamu
kau kan pengangguran
Langganan:
Postingan (Atom)