05 November 2006

perhitungan

Kita hanya mampu menakar gelisah;
Berapa terberi
Berapa terbagi
Sejenak sebelum berpisah

Kita memang kerap bersandar
Dengan tak sadar.
Dan mengerti sesuatu berarti
Setelah pergi, tak kembali.

Kita masih duduk saja tanpa kata
Memandang langit yang hitam
Menunggu bintang yang telat datang

Aku, ucapmu, mungkin seharusnya
Tak datang. Lalu kunangkunang
Membawa lukisan. Putri yang tertidur.

19 Oktober 2006

Untuk Tubuh Yang Tak Utuh

sehelai rumbia tertinggal di desir angin
berhembus, lewat pintu yang terbuka
ada gurat tangan yang mengarat di gagangnya.
entah

lalu udara menyekap hawamu disini
meninggalkan jejak dingin batu karang
pada malam yang karam

tak ada yang hendak mentasbihkan gelap malam
pada secangkir kopi dan sebatang rokok
sebab tubuh tak lagi utuh
merentang panjang
tercecer terpisah
basah

dan kita tak perlu lagi menempuh jauh
sebab kita telah satu dalam seluruh
memadat dalam setiap alat

puisi diatas dimuat dalam antologi Mencari Rumah; Antologi Puisi Hysteria 2004-2007

20 September 2006

tuktakatakata

Kau bikin senin pagi dalam mulutmu
Keretakeretakelasekonomi menjerit
Sarapan pagi tercecer dibawah meja. Uh, semalam
Kucing memburu tikus.

Kadang kata juga sok tahu. O, semut senang
Rasa asin. “ pinjem kamarmu dong” tukang jagal
Mencincang daging.

Aku upacara pagi. Uh, katakata membunuhku!
092006

bonsai
Kau menanam sebuah biji saat pertama kita bertemu disebuah taman di belakang sekolah. Ada kupukupu berwarna ungu, dan kau tersenyum malu.

aku hanya batu
keras, cadas.

“Jagalah biar tumbuh”, ucapmu.

tapi aku tak pernah
tak kusiram
tak kurawat
tak kulihat

“Oh, baik sekali kau merawatnya. Besar sekali pohon ini” kau berkata setelah kita tak lagi berjumpa.
Bagaimana mungkin, pikirku. Aku tak pernah menjaganya.
“Sudahlah, mungkin kau juga mengingatku. Tapi aku akan pergi”.

Dan kubonsai pohon itu
Hilang dahan julang langit
Rantingdahandaunbunga mengecil
Cuma akar menggelembung

17 April 2006

matahari hijau tua

Hatimu hinggap di ujung Laventar
lalu jatuh di pelukanku
dan tersedu

Di mataku kau mewarnai matahari
dengan spidol hijau tua
dan kudengar jeritmu
dari televisi yang tak henti
menyemburkan darah,
bangkai bintang dan rembulan

di luar sebagian orang berpesta
merayakan kematian tuhan
dan segera iklan-iklan bertebaran;
lowongan pekerjaan; butuh tuhan
pendidikan dan pengalaman tak diutamakan

kenapa tak melamar? tanya tetanggamu
kau kan pengangguran